Inspirasi Mahasantri Ma’had Syaraful Haramain

Dia seorang perempuan, yang juga tidak mempunyai latar belakang pendidikan agama. Tetapi, kesadaran dakwah, kesadaran tentang penting dan wajibnya menguasai bahasa Arab, serta keinginan kuat meningkatkan kualitas diri, telah mendorongnya menempuh perjalanan jauh tiap Sabtu dan Ahad tanpa lelah, untuk mengikuti Program I’dadi di Ma’had Syaraful Haramain, Bogor.

Dia juga bukan perempuan yang berpendidikan tinggi, tetapi seorang perempuan biasa, yang bekerja sebagai buruh pabrik. Suatu ketika, setelah diumumkan diterima sebagai Mahasantri Ma’had Syaraful Haramain, Program I’dadi di Bogor, dia mengajukan kepada Mudir, permohonan Surat Keterangan Belajar di Ma’had untuk diajukan kepada pabrik, tempatnya bekerja.

Setelah mendapatkan surat yang dimaksud, dia pun mendapatkan izin belajar. Dia berjuang hingga tetes keringat yang terakhir. Bisa dimaklumi, dengan kesibukannya bekerja, belum lagi tiap Sabtu dan Minggu, harus menempuh perjalanan jauh, pulang pergi, dari Serang, Banten ke Bogor. Untuk sampai di Bogor, dia harus menempuh perjalanan tidak kurang dari 4 jam, dari rumahnya. Setelah selesai, dia harus kembali lagi, dengan perjalanan yang sama. Semuanya itu sanggup dia lakukan, tiap Sabtu dan Ahad.

Selama 4 bulan, dia berjuang untuk menempuh pendidikan di Ma’had. Dengan segala keterbatasannya, dia tidak pernah mengeluh. Biaya yang harus dibayarkan ke Ma’had, meski tidak mahal, untuk sebagian Mahasantri atau wali santri, terkadang menjadi kendala, tetapi tidak baginya. Dia tidak pernah mengeluh, apalagi mengajukan keringanan biaya. Sungguh luar biasa.

Dengan segela keterbatasan waktu, tenaga dan pikirannya, dia memang bukan mahasantriwati yang mempunyai prestasi yang luar biasa. Bahkan terbilang biasa-biasa, malah kurang. Tetapi, kesadaran, semangat dan perjuangannya yang tidak kenal lelah, meski dia harus lulus dengan syarat mengikuti remedial, namun
dia harus berbangga dengan hasil akhirnya.

Setelah semua proses dan tahapan diikuti dengan seksama, dengan perjuangan yang luar biasa, akhirnya dia lulus sebagai salah satu dari 5 terbaik. Melihat perjuangannya yang begitu luar biasa, saat menyerahkan Syahadah tanda kelulusannya, rasanya bangga, mempunyai mahasantri/santriwati yang luar biasa.

Semuanya ini memotivasi kami untuk memberikan yang terbaik kepada mereka. Mereka adalah amanah yang Allah bebankan kepada kami. Mohon doanya, agar kami semua bisa mewujudkan cita-cita mereka.

Berbeda lagi dengan kisah salah satu Mahasantriwan. Dia seorang pengusaha, tidak mempunyai latar belakang pesantren, atau pendidikan agama, selain semangat dan kesadaran dakwah. Dia masuk di Ma’had, mengikuti tes, dengan nilai di bawah 30.

Dia sejak awal belajar di Ma’had, karena hendak mencari guru. Bahkan, suatu ketika sanggup menjadi supir pribadi saya, untuk mengisi Kajian Tafsir dan Sirah di BSD. Motivasinya, subhanallah, berkhidmat dan mencari ilmu dari seorang guru/ulama’.

Filosofinya seperti Thariq bin Ziyad, saat menaklukkan Spanyol, kapal-kapal sudah dibakar, kembali ke belakang ada lautan, dan tidak mungkin pulang. Di depan ada daratan, di sana musuh siap menantang. Tak ada pilihan, kecuali maju dan maju hingga menang. Maka, begitulah, dengan semangat Thariq bin Ziyad, dia tidak pernah absen. Dia datang tepat waktu, bahkan 15 menit sebelum pelajaran. Tujuannya agar 90% materi bisa diserap. Dia katakan, jika terlambat, maka hanya 30% materi bisa diserap, apalagi kalau tidak datang.

Tidak hanya itu, karena agenda di Ma’had full, dia sengaja siapkan bekal makanan dengan tiga jenis minuman. Pagi, minum Teh, agar fresh. Siang untuk makan, minum air putih. Ketika kantuk mulai menghampiri, dia sudah siapkan Kopi.

Begitulah semangat, kiat dan upayanya. Belum lagi, kesungguhannya bertanya, bahkan terus mengejar para asatidz. Tapi dengan sabar dilayani hingga apa yang dicari benar-benar dia dapatkan. Begitulah, akhirnya dia lulus dari Program I’dadi dengan nilai 5 terbaik.

Dia kini merasakan betapa nikmatnya belajar bahasa Arab. Dzauq (rasa bahasa)-nya pun tumbuh seiring proses dan kesungguhannya.

Subhanallah..

Dikisahkan¬†oleh: KH Hafidz Abdurrahman, MA (Khadim Ma’had Syaraful Haramain)

Leave a Comment